Hai.. Apa khabar , setelah lama tak bersua. Akhir-akhir ini saya banyak disibukkan dengan aktivitas kuliah dan pekerjaan juga sebagai bapak rumah tangga . Lama berkecimpung di industri media rasa-rasanya semakin abu-abu saja batas antara kerja-kerja pers dengan industri media atau sebut saja industri pers . Hal ini dimulai sejak ancaman disrupsi mulai melanda dunia pers sekarang. Setiap orang kini dengan mudah tampil, berbicara sebagai pemberi informasi hanya dengan menampilkan satu atau dua narasumber lalu kemudian bertanya mengonfirmasi fakta-fakta yang berkaitan dengan narasumber yang dihadirkan.
Hidup tenang itu adalah ketika kau tidak kepo dengan urusan orang lain. Cukup sekadarnya. Facebook, X (Twitter) dan Instagram itu harusnya hanya hiburan. Makin ke sini makin sadar bisa menghabiskan waktu ber jam-jam hanya melihat medsos. Candu iya. Jadi ingat dulu, ketika jaman televisi (tv) berbayar mulai dikenalkan. Jika hari libur bisa berjam-jam didepan layar tv. Kata Pierre Bordieu, teoritis sosial yang banyak mengkritik soal tayangan di tv itu ibarat candu, membawa emosi dan prasangka. Padahal, hampir bisa dipastikan semua settingan atau 90 persen adalah settingan belaka. Baca Juga : Gaya Komunikasi Caturwulan Pemerintahan Prabowo Subianto Tapi kritikan Bordieu ini makin ke sini bukan tv. Tapi gadget yang di dalamnya banyak sekali tontonan yang bisa dikontrol. Kalau dahulu tv tidak mudah dikontrol karena diatur berdasarkan acara. Masih ingat dulu di stasiun tv TVRI tagline Menjalin Persatuan dan Kesatuan. Kalau di wilayah timur seperti Sulawesi jaman 1994....
Siang hari, panas masih terik. Saya masih menyusuri jalan Irian dan sekitarnya, berputar-putar dari jalan sempit perkampungan warga keturunan Tionghoa, Jalan Sulawesi dan sekitarnya. Pun saya tersesat di jalan Nusakambangan bertemu dengan Eric Salimin-Liem Hoek Jin. Ditempatnya ia bercerita pada masa penjajahan, tentang ketokohan Mayor Thoeng di Makassar. ***** Sekumpulan tentara Jepang Tokketai memburu keluarga Mayor Thoeng Liong Hoei. Mata-mata menyebut, Mayor Thoeng telah melarikan diri dari kediamannya di Jalan Bacan No 5. Tahun 1942, di perbatasan limbung Makassar, Mayor Thoeng Liong Hoei bersama tujuh anggota keluarganya dibunuh tentara Jepang. Selain Mayor, mereka yang dibunuh adalah anak sang Mayor bernama Thoeng Kok Sang, Thoeng Kok Tjien, Thoeng Kok Tjeng, dan Thoeng Kok Leang. Satu menantu Mayor Thoeng Tan Hong Teng bersama dua bersaudara Lie ikut dibunuh tentara Jepang. Sementara tiga istri sang Mayor berhasil kabur. "Hingga kini, kisah Mayor Thoeng terus bergeri...
Comments
Post a Comment
sekedar jejak..